Minggu, 22 Juli 2012

PENGARUH RYOUSAIKENBO TERHADAP KARIR PARA IBU MUDA JEPANG


Oleh  : Iin Diah Indrawati

        Kehidupan wanita disetiap negara pastilah memiliki perbedaan. Tentunya, masing-masing negara memiliki ciri khas tersendiri. Perbedaan disetiap negara itu bisa berupa kehidupan sosial, karir, dan sebagainya. Bahkan, perbedaan itu pun sewaktu-waktu dapat berubah ataupun berkembang disetiap negara. Sebab, hal itu tidak dapat terlepas dari faktor-faktor budaya dan kehidupan masyarakat yang ada pada saat itu.
Begitu juga dengan negara Jepang. Jepang pun memiliki ciri khas tersendiri terhadap kehidupan sosial wanitanya. Kehidupan sosial ini terus mengalami perubahan khususnya setelah Perang Dunia II berakhir di Jepang, peluang bekerja bagi wanita menjadi terbuka lebar. Hal tersebut membuat banyak wanita Jepang memilih bekerja dengan tujuan untuk emansipasi kesetaraan hak dan mengejar karir. Bahkan, meningkatnya wanita Jepang yang berpendidikan tinggi dan  memiliki kemampuan bekerja yang setara dengan laki-laki membuat kesempatan tersebut menjadi semakin besar bagi wanita untuk masuk dalam dunia kerja.
        Namun, dalam menjalani kehidupan setiap wanita pasti menjalani kehidupan pernikahan. Dalam menjalani pernikahan, tentunya wanita diharapkan menjadi seorang ibu rumah tangga yang dapat mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tangga sepenuhnya. Bagi masyarakat Jepang seorang ibu memiliki peranan yang besar di dalam keluarga. Mulai dari mengurus rumah tangga, merawat dan mendidik anak, serta mengontrol keuangan rumah tangga. Sehingga, hal tersebut menimbulkan konsep ryousaikenbo di dalam masyarakat Jepang.
Walaupun kesempatan bekerja bagi wanita Jepang saat ini terbuka lebar, namun banyak wanita Jepang yang ditempatkan dalam posisi yang tidak begitu penting. Bahkan, wanita yang telah menikah dan memiliki anak tidak dapat melanjutkan karir mereka seperti wanita lain yang belum menikah. Bagi wanita Jepang hal tersebut merupakan ketidakadilah gender dalam dunia kerja.  Oleh karena itu, dalam makalah ini peneliti akan menulis mengenai pengaruh ryousaikenko terhadap karir para wanita Jepang yang telah menikah dan memiliki anak.
Konsep Ryousaikenbo
Pada zaman Edo para wanita Jepang telah dididik untuk menjadi istri yang baik dan kelak akan memiliki rasa tanggung jawab dalam mengurus rumah tangga dan melahirkan anak. Pada zaman ini konsep ryousaikenbo belum muncul karena wanita pada saat itu tidak memiliki tanggung jawab yang penuh atas pendidikan formal bagi anak-anak mereka. Akan tetapi, pada zaman meiji sekiatar tahun 1867 merupakan awal dimulainya restorasi meiji. Pada masa itu Jepang sedang berusaha mengejar keterbelakangan dari bangsa barat. Oleh karena itu, pemerintah mengupayakan dengan cara meningkatkan sistem pendidikan wanita agar disamaratakan dengan pria karena kenyamanan dan kebahagian di rumah sangat bergantung pada wanita. Selain itu mendidik anak pada masa pertumbuhan merupakan tanggung jawab seorang ibu, karena itu masa depan bangsa sangat tergantung pada pendidikan wanita. (Makalah Nihon Toshi Shakai Mondai Wanita Jepang dalam Konsistensi menjadi Seorang Ibu, Oleh Risma Delviana Siahaan)
Sekitar tahun 1874, seorang ahli konfusian yaitu Nakamura mengidentifikasikan peran ibu dalam wanita adalah sumber kekuatan negara. Ia percaya bahwa wanita yang berpendidikan akan membawa masyarakat menjadi lebih maju. Sejak saat itu muncullah konsep ryousaikenbo yaitu istri yang baik dan ibu yang bijaksana. Konsep ini oleh pemerintah semakin gencar diperkenalkan dan ditanamkan kepada para wanita Jepang agar selain menjadi istri yang baik juga dapat menjadi ibu yang bijaksana dan memperhatikan pendidikan anak-anak mereka. Bila memiliki ibu yang baik dan pandai maka anak mereka pun akan pandai dan Jepang pun akan menjadi negara yang maju. Maka untuk menciptakan ibu yang baik, tidak ada cara lain selain, mendidik para wanita sejak dini dengan menanamkan konsep ryousaikenbo. (Rita R. Konsep Chichioya fuzai dalam hubungan ayah dan anak di Jepang. Universitas Binus. 2008)
Sebenarnya, ryousaikenbo merupakan awal dari pandangan wanita Jepang modern. Hal ini disebabkan karena sebelum zaman meiji, para wanita hanya berperan sebagai orang melahirkan anak saja serta tidak diperbolehkan  mengurus anaknya sendiri. Tetapi sejak konsep ryousaikebo mulai diterapkan pada zaman meiji, wanita pun harus turut berperan aktif dalam mendidik anak. Bahkan, konsep ryousaikenbo ini semakin diperkuat bahwa keluarga dianggap sebagai rumah. Dengan maksud bahwa di dalam rumah para anggota keluarga akan dirawat secara penuh kasih sayang oleh istri atau ibu.
Meskipun wanita Jepang telah mengalami kemajuan pada zaman itu namun, tetap saja dilakukan pemisahan kelas bagi pria dan wanita. Bahkan, pada saat itu pekerjaan bagi wanita Jepang sangat dibatasi serta pendidikan bagi wanita hanya dapat sampai SMU. Sehingga dapat dikatakan bahwa, konsep ryousaikenbo sebagai awal dari dimulainya ketidakadilan gender bagi wanita Jepang. Dimana seorang wanita yang telah menikah dan memiliki anak harus secara penuh mengurus rumah tangga dan merawat anak serta patuh terhadap segala keputusan suami.
Atas dasar konsep ryousaikenbo ini wanita Jepang harus dapat berperan sebagai istri yang baik dan mengatur keadaan rumah dan melayani kebutuhan keluarga terutama suami dan dapat juga bereran sebagai ibu yang bijaksana dalam menyerahkan diri sepenuhnya untuk mendidik anak. Sehingga kedua hal tersebut menjadi prioritas utama. (Rita R. Konsep Chichioya fuzai dalam hubungan ayah dan anak di Jepang. Universitas Bina Nusantara. 2008)

Karir Para Ibu Muda Jepang
          Ketika perang Dunia II berakhir di Jepang, tingkat pendidikan pada kehidupan wanita Jepang pun telah mengalami perkembangan. Jika, sebelum perang dunia II wanita Jepang hanya diperbolehkan melanjutkan pendidikan sampai SMU, tetapi sekarang sudah banyak para wanita Jepang saat ini dapat melanjutkan pendidikan hingga tingkat Universitas. Akibat hal tersebut, persaingan dalam dunia kerja dan peluang bekerja bagi wanita Jepang terbuka lebar. (Dampak karir terhadap menurunnya angka kelahiran di Jepang. Universitas Bina Nusantara.2007)
        Wanita yang memiliki latar pendidikan yang tinggi maka secara otomatis akan mendapatkan pekerjaan yang baik pula. Akibatnya, banyak perusahaan bertaraf internasional di Jepang yang menerima para wanita yang berasal dari lulusan Universitas. Kemudian, dengan memiliki pekerjaan yang bagus para wanita tersebut pasti akan mendapatkan gaji yang tinggi. Hal ini tentunya akan membuat wanita Jepang semakin termotivasi untuk terus bekerja walaupun telah menikah.
        Akan tetapi, di Jepang kesempatan untuk bekerja setelah menikah dan memiliki anak adalah hal cukup sulit dilakukan. Alasannya, banyak perusahaan Jepang yang diawal memberikan kontrak sebagai wanita karir atau tidak. Jika tidak, setelah ia menikah dan memiliki anak maka ia harus berhenti dari perusahaan untuk merawat anak dan nantinya tidak bisa kembali bekerja di perusahaan tersebut dengan posisi yang sama. Hal tersebut, mengakibatkan banyak wanita Jepang hanya dapat bekerja untuk waktu yang relatif singkat di dalam perusahaan. (Makalah Nihon Toshi Shakai Mondai Wanita Jepang dalam Konsistensi menjadi Seorang Ibu, Oleh Risma Delviana Siahaan)
Hal ini pun semakin ditegaskan oleh Iwao Sumiko dalam bukunya The Japanese Woman: Traditional Image and Changing Reality yang menggambarkan bagaimana pola kehidupan pekerja wanita dan pria Jepang pada tahun 1982 dari usia 25 tahun hingga usia 65 tahun, yang membentuk grafik sebagai berikut:





 
 











Gambar  Survey Dasar Mengenai Komposisi Pekerja Tahun 1982

        Grafik tersebut membentuk “kurva M” dan kurva tersebut menggambarkan bahwa pada usia 20-24 tahun baik pria maupun wanita Jepang memiliki pekerjaan untuk pria 80% dan wanita 70%, tetapi pada usia 25-34 tahun wanita Jepang yang telah menikah dan bekerja presentasenya hanya 40% sedangkan dengan wanita Jepang lajang yang bekerja presentasenya 79%. Kemudian di usia 35-54 tahun wanita Jepang bekerja yang telah menikah presentasenya 60% sedangkan wanita Jepang lajang  dan bekerja presentasenya 80%.
        Kurva berbentuk “M” terjadi karena dipengaruhi oleh siklus kehidupan wanita Jepang yang terdiri dari empat fase yaitu fase pertama adalah fase menjadi dewasa, bersekolah dan bekerja. Fase kedua adalah menikah, melahirkan dan membesarkan anak. kemudian fase ketiga adalah fase kehidupan setelah membesarkan anak dan yang terakhir fase keempat adalah masa tua. (Sugitomo 2003:154 )
Kemudian, hal tersebut semakin diperkuat dengan contoh kasus yang ditulis oleh Jolivet dalam bukunya Japan: The Childless Society? The Crisis of Motherhood (2006:31), ia memberikan contoh kasus mengenai seorang ibu muda Jepang yang harus berhenti bekerja karena harus mengurus rumah tangga dan merawat anak.
Mrs A, after four years of study, spent five years working in publicity and then was excluded from professional circles when she became pregnant. She told the baby help line that her husband opposed her continuing to work because she had reached the right age (about 27 or 28)to have a child. Filled with regret at having to break her career and feeling herself to be the victim of her husband’s decision, she did not find her child ‘lovable’. Childcare was an overwhelming experience and the fact that she never had a minute to herself to read a book or the newspaper was positively frustrating. She found the task irksome and exasperating and whenever the child refused his feeed she admitted to feeling tempted to throw the bottle to the ground.
Terjemahan:
seorang ibu muda di Jepang yang berinisial “A” setelah 4 tahun lamanya bersekolah dan  menghabiskan 5 tahun waktunya untuk bekerja di sebuah perusahaan, dikucilkan dari rekan kerjanya  ketika dirinya tengah mengandung. Bahkan, dia mengatakan kepada baby help line bahwa suaminya melarang ia melanjutkan pekerjaannya karena dia telah mencapai usia yang tepat yaitu sekitar 27 atau 28 tahun untuk memiliki anak. Dengan diliputi perasaan penyesalan karena ia harus berhenti dari karirnya untuk sementara dan dia merasa dirinya menjadi korban dari keputusan suaminya sehingga dia tidak dapat menemukan perasaan untuk menyayangi anaknya. Merawat anak adalah pengalaman yang luar biasa tetapi kenyataannya dia tidak mempunyai waktu semenit pun untuk sekedar membaca buku ataupun koran hingga akhirnya ia merasa benar-benar frustasi. Dia seperti menemukan tugas yang menjemukan dan menjengkelkan ketika anaknya menolak makanan yang diberikan olehnya, bahkan dia merasa terpancing untuk melemparkan botol sang anak ke tanah.
          Contoh kasus diatas sangat menunjukkan bahwa ibu muda tersebut mengalami dilema saat rekan kerjanya memaksa ia secara tidak langsung agar berhenti bekerja karena tengah mengandung bahkan bukannya itu saja suaminya pun juga melarang ia untuk bekerja karena tugas sebenarnya bagi seorang wanita yang telah menikah adalah mengurus rumah tangga dan merawat anak.
Ketidakadilan gender dan Pengaruh  ryousaikenbo Terhadap Karir Ibu Muda di Jepang
          Sejak berakhirnya perang dunia II di Jepang, tenaga kerja wanita mulai banyak bermunculan disegala bidang pekerjaan. Bahkan, mereka dapat secara bebas mengikuti pendidikan sama seperti pria. Para wanita yang memiliki pendidikan tinggi dapat bekerja diberbagai macam perkantoran di Jepang. Walaupun para wanita telah memperoleh kebebasan dalam memperoleh pendidikan hingga tingkat Universitas namun tidak dapat dielakkan bahwa apabila kelak ia menikah dan menjadi seorang ibu maka ia harus melaksanakan perannya secara penuh sebagai ibu rumah tangga sesuai dengan konsep ryousaikenbo. Dimana proritas utama menjadi seorang ibu adalah harus mengurus rumah tangga dan merawat anak.
        Wanita yang bekerja dan telah menikah apabila ia beristirahat dari pekerjaannya karena harus merawat anaknya dan kemudian memutuskan kembali lagi untuk memasuki dunia kerja, biasanya akan sulit diterima di dalam perusahaan lamanya atau kalau pun diterima dalam perusahaan yang dahulu biasanya akan mendapatkan posisi pekerjaan yang lebih rendah daripada posisi pekerjaannya sebelum menikah. Kebanyakan wanita yang telah berhenti bekerja saat menikah tidak akan bisa memperoleh jenis pekerjaan yang sama dengan pekerjaan yang telah dia tinggalkan sebelumnya, karena dibutuhkan jenjang karir yang panjang untuk memperoleh posisi manajer dalam sebuah perusahaan.
        Peneliti berpendapat bahwa, salah satu penyebab wanita Jepang yang telah menikah dan memiliki anak harus berhenti bekerja adalah adanya pengaruh dari konsep ryousaikenbo. Dimana dalam konsep ryousaikenbo diajarkan bahwa kunci sukses sebuah rumah tangga adalah wanita dapat berperan sebagai istri yang baik dan mengatur keadaan rumah dan melayani kebutuhan keluarga terutama suami dan dapat juga bereran sebagai ibu yang bijaksana dalam menyerahkan diri sepenuhnya untuk mendidik anak. Serta mereka meyakini bahwa mendidik anak dengan kemampuan sendiri akan membuahkan hasil yang lebih baik yaitu bila memiliki ibu yang pandai maka anak mereka pun akan pandai.
        Kemudian dengan melihat grafik yang berbentuk kurva “M” yang ada dibagian atas dapat disimpulkan bahwa wanita yang bekerja pada usia 25~34 tahun dan berada di fase dua yaitu fase melahirkan dan membesarkan anak, presentasenya mengalami penurunan. Tetapi setelah selesai menghadapi fase dua, yaitu wanita yang berada di fase ketiga ketika berusia 35~50 tahun presentasenya kembali meningkat. Berdasarkan hal tersebut peneliti berpendapat bahwa menurunnya presentase wanita Jepang yang berada dalam fase dua adalah disebabkan karena setiap wanita Jepang yang bekerja apabila memutuskan untuk menikah dan memiliki anak maka secara otomatis mereka harus meninggal pekerjaan mereka dan bekerja sebagai ibu rumah tangga sesuai dengan konsep ryousaikenbo yaitu istri yang bijaksana dan ibu yang baik bagi anak dan suami mereka.
        Akan tetapi, bagi wanita Jepang berhenti bekerja karena harus mengurus rumah tangga dan merawat anak adalah sebuah ketidakadilan gender. Menurut Mansour Fakih dalam bukunya Analisis Gender dan transformasi sosial (2003:74) ia menjelaskan gender dan stereotipe secara umum yaitu
       Secara umum stereotipe adalah pelabelan atau penandaan terhadap suatu kelompok. Stereotipe adalah pelabelan negatif terhadap jenis kelamin tertentu dan akibat dari stereotipe itu terjadi diskriminasi serta berbegai ketidakadilan yang lainnya. Dalam masyarakat banyak sekali stereotipe yang dilekatkan kepada kaum perempuan yang berakibat membatasi, menyulitkan, memiskinkan dan merugikan kaum perempuan. Karena adanya keyakinan masyarakat bahwa laki-laki adalah pencari nafkah (bread winner) misalnya, setiap pekerjaan yang dilakukan oleh perempuan dinilai tambahan dan oleh karenanya boleh saja dibayar lebih rendah.

Berdasarkan kutipan diatas stereotipe termasuk salah satu ketidakadilan gender. Dimana stereotipe adalah pelabelan terhadap suatu kelompok tertentu. Kelompok yang dimaksud adalah wanita. Dimana dalam masyarakat wanita selalu diidentikan sebagai kaum yang lemah. Dengan melihat hal tersebut peneliti berpendapat bahwa pengaruh ryousaikenbo terhadap karir wanita Jepang yang telah menikah dan memiliki anak hingga harus berhenti dari pekerjaan termasuk dalam stereotipe. Alasannya adalah karena adanya pelabelan atau citra ryousaikenbo disetiap wanita Jepang maka apabila ada wanita yang memutuskan untuk menikah dan memiliki anak secara otomatis karir mereka akan terhenti.
        Kemudian, berdasarkan contoh kasus yang dikemukan oleh Jolivet (2006:31) diatas dapat disimpulkan bahwa ibu muda tersebut sedang mengalami dilema, antara memilih pekerjaan dan mengurus anak serta keluarga walaupun pada akhirnya ibu muda tersebut akhirnya memilih mengurus rumah dan merawat anak. Peneliti berpendapat bahwa dari contoh kasus tersebut sangat membuktikan bahwa konsep ryousaikenbo sangat mengakar dan terlihat jelas di dalam kehidupan masyarakat Jepang. Bahkan, contoh kasus tersebut sangat menggambarkan betapa ibu muda itu terlihat tidak dapat berbuat apapun selain mengikuti hal tersebut yaitu berhenti bekerja.
        Bahkan, hal tersebut pun termasuk dalam ketidakadilan gender stereotipe dimana seorang wanita yang telah menikah dan memiliki anak itu harus berhenti bekerja dan mengurus rumah tangga secara penuh, merawat dan mendidik anak, serta mengurus keuangan rumah tangga.




Kesimpulan
Pada era meiji muncullah sebuah konsep ryousaikenbo yang artinya istri yang baik dan ibu yang bijaksana. Dimana dalam konsep ryousaikenbo ini wanita Jepang harus dapat berperan sebagai istri yang baik dan mengatur keadaan rumah dan melayani kebutuhan keluarga terutama suami dan dapat juga bereran sebagai ibu yang bijaksana dalam menyerahkan diri sepenuhnya untuk mendidik anak. Sehingga kedua hal tersebut menjadi prioritas utama bagi setiap wanita Jepang yang telah menikah dan memiliki anak.
        Ketika perang Dunia II berakhir di Jepang, tingkat pendidikan pada kehidupan wanita Jepang pun telah mengalami perkembangan. Akibatnya, persaingan dalam dunia kerja dan peluang bekerja bagi wanita Jepang terbuka lebar. Tetapi, di Jepang kesempatan untuk bekerja setelah menikah dan memiliki anak adalah hal cukup sulit dilakukan. Bahkan, hal ini pun semakin ditegaskan dalam bentuk grafik yang berbentuk kurva “M”. Dimana dalam grafik itu diterangkan bahwa wanita yang bekerja pada usia 25~34 tahun dan berada di fase dua yaitu fase melahirkan dan membesarkan anak, presentasenya mengalami penurunan. Tetapi setelah selesai menghadapi fase dua, yaitu wanita yang berada di fase ketiga ketika berusia 35~50 tahun presentasenya kembali meningkat. disebabkan karena setiap wanita Jepang yang bekerja apabila memutuskan untuk menikah dan memiliki anak maka secara otomatis mereka harus meninggal pekerjaan mereka dan bekerja sebagai ibu rumah tangga sesuai dengan konsep ryousaikenbo yaitu istri yang bijaksana dan ibu yang baik bagi anak dan suami mereka.
        Bahkan hal ini pun semakin diperkuat oleh contoh kasus yang menggambarkan bagaimana dilemanya seorang ibu muda Jepang antara memilih pekerjaan dan mengurus anak serta keluarga walaupun pada akhirnya ibu muda tersebut akhirnya memilih mengurus rumah dan merawat anak. contoh kasus tersebut sangat membuktikan bahwa konsep ryousaikenbo sangat mengakar dan terlihat jelas di dalam kehidupan masyarakat Jepang.
        Peneliti berpendapat bahwa, berdasarkan dari grafik dan contoh kasus diatas terlihat jelas pengaruh ryousaikenbo terhadap karir wanita Jepang yang telah menikah dan memiliki anak hingga harus berhenti dari pekerjaan termasuk dalam stereotipe. Alasannya adalah karena adanya pelabelan atau citra ryousaikenbo disetiap wanita Jepang maka apabila ada wanita yang memutuskan untuk menikah dan memiliki anak secara otomatis karir mereka akan terhenti.



***


Daftar Pustaka
Fakih, Mansour. Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Pustaka Pelajar Offset. 2003
Jolivet, Muriel. Japan : The childless Society? The crisis of Motherhood. New York : Routledge. 1997
Iwao, Sumiko. The Japanese Woman: Traditional Image and Changing Reality. New York: The Free Press.1993
Sugimoto, Yoshio.  An Intrudition to  Japanese  Society, Second Edition. Cambridge : UK.2003
Dampak Karir Terhadap Menurunnya Angka Kelahiran di Jepang. Universitas Bina Nusantara.2007
Rita R. Konsep Chichioya Fuzai dalam Hubungan Ayah dan Anak di Jepang. Universitas Bina Nusantara. 2008
Makalah Nihon Toshi Shakai Mondai Wanita Jepang dalam Konsistensi menjadi Seorang Ibu, Oleh Risma Delviana Siahaan
Jurnal “wanita Jepang dalam karir dan kehidupan sosial
Iwasaki, Anni. Artikel “wanita Jepang Konsisten menjadi seorang Ibu”.Media Indonesia. 2004

2 komentar:

  1. makalah nihon toshi sebenarnya oleh risma atau takadewa niko? karena saya juga menemukan makalah nihon toshi tp yang membuat takadewa niko.?

    BalasHapus